Talks and News
KAPAL BAJA AGAR NELAYAN MANDIRI

12472264_10208066657525430_8600263959571615284_n

JAKARTA, KOMPAS – Sejumlah nelayan di Pulau Untung Jawa membuat kapal berbahan dasar pelat baja datar dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Kapal ini menurut rencana digunakan untuk usaha perikanan. Upaya ini diharapkan bisa menjadi titik agar nelayan semakin berdaya.

Pembuatan kapal yang merupakan bagian dari proyek percontohan Program Galangan Rakyat ini didukung perkumpulan Telapak, komunitas Bersih Nyok, Indonesia Petroleum Association. Serta didampingi sejumlah lulusan perkapalan Universitas Indonesia yang tergabung dalam Juragan Kapal. Selasa (15/12), kapal berukuran 9 meter x 2.5 meter itu mulai menjajal laut.

Mulyadi (50), salah seorang nelayan yang ikut dalam pengerjaan, menyampaikan, ia menghadapi sejumlah masalah dalam membuat kapal. Puluhan tahun sebagai nelayan, dia tidak pernah membuat kapal secara utuh, terutama dari yang berbahan besi.

“Belajar mengelas aja susahnya minta ampun. Kami belajar dari awal, sampai akhirnya kami bisa memotong pelat baja, menyambung, sampai jadi kapal,” ucap ayah lima anak ini.

Kapal yang dibuat Mulyadi bersama dua rekannya, Taufan (25) dan Rahlan Firmansyah (23) ini mulai dikerjakan September lalu di galangan kapal Tanjung Buruh, Paku Haji, Kabupaten Tangerang. Kapal ini dibuat berbeda dengan kapal biasa dan bentuk lambung yang lurus. Bagian depan kapal tampak lancip. Model ini disebut juga model kapak, untuk memecah gelombang.

Sanlaruska Fathernas dari Juragan Kapal menyampaikan, tentu butuh upaya lebih melibatkan nelayan dalam pembuatan kapal besi. Apalagi, selama ini nelayan terbiasa dengan kapal kayu. Kapal berkapasitas 5 gross ton ini selain melibatkan nelayan dalam pembuatan juga diupayakan betul agar sesuai dengan kebutuhan nelayan.

“Dalam prosesnya, kami serahkan bagian atas perahu pada nelayan. Sementara bagian bawah dan perhitungan aerodinamika kapal kami yang kerjakan. Kami belajar dari sejumlah proyek pengadaan kapal selama ini tidak melibatkan aktif nelayan dalam pembuatan. Akhirnya, kapal tidak terpakai karena tidak sesuai kebutuhan.” Ucap Sanlaruska.

Kapal ini menghabiskan biaya Rp. 150 juta ata setara dengan pembuatan kapal dengan bahan fiber. Akan tetapi, dampak lingkungan, waktu pembuatan, hingga ketahanan bisa lebih baik.

Amaranila Lalita Drijono dari komunitas Bersih Nyok mengapresiasi pembuatan kapal ini. Selain membantu nelayan, kapal ini juga bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, baik transportasi, kesehatan, maupun pendidikan. Apalagi, bahan kapal menggunakan produk lokal dan bahan yang mudah didapatkan.

Khusnul Zaini dari Telapak mengharapkan pembuatan kapal ini bisa menjadi pintu masuk agar nelayan semakin mandiri. “Langkah selanjutnya, kami akan membuat koperasi khusus untuk produksi. Setelah itu, nelayan yang dilatih itu membagikan ilmunya ke nelayan dan kelompok-kelompok yang ada. Kami berharap nanti mereka tak hanya bisa memiliki kapal, tetapi juga bisa menjadi produsen.” Kata Khusnul. (JAL)

Sumber: http://print.kompas.com/…/16/Kapal-Baja-agar-Nelayan-Mandiri